732 Words. Romance/AU/Fluff. PG13.
Bangtan Boys' fanfiction.
Kim Taehyung and OC.
**
"Apa kau merindukanku?"
Aku tidak berniat menjawab pertanyaan yang diiringi oleh tawa jenaka itu, kendati kedua ujung bibirku tetap melengkung membentuk sebuah senyuman kecil. Memberikan respon pada ucapan seorang Kim Taehyung bukanlah pilihan yang tepat; semua jawaban yang aku berikan--apapun itu-- pasti akan dijadikan senjata ampuh untuk membuat wajahku memerah. Taehyung akan membalas ucapanku dengan kalimat yang tidak dapat aku terka. Meski aku benci mengakuinya, tapi itu adalah salah satu kebiasaan seorang Kim Taehyung yang sangat aku rindukan.
"Kau tersenyum; pasti kau sangat merindukanku." Taehyung memasang senyuman jahilnya. Aku mengerutkan kening lantas menyesap cokelat panasku. Bahkan kini dia bisa membuat serangan saat aku tidak mengatakan apapun.
"Bagaimana kau dapat berspekulasi seperti itu?"
"Bukan spekulasi. Itu kenyataan." protes Taehyung, ia mengedarkan pandangannya untuk memperhatikan seluruh penjuru kafe lalu kembali menatapku.
"Tempat ini selalu sepi. Sudah berapa lama kita tidak datang kesini? 5 tahun? Ah kurasa lebih."
"Ingin membicarakan masa lalu?" tanyaku sembari terkekeh pelan. Taehyung menarik salah satu ujung bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman kecil, jari kirinya mengetuk-ngetuk meja dengan tempo yang lambat, sedangkan tangan kanannya menopang dagunya.
"Kau selalu bisa membaca pikiranku. Sudah berlatih menjadi seorang cenayang?" tanya Taehyung dengan nada jahil.
"Tidak. Sikapmu memang sangat mudah ditebak, Taehyung-ah --kecuali apa yang akan kau ucapkan. Itu diluar kemampuanku."
"Kemampuanmu tidak cukup hebat untuk dapat melakukan itu, kan? Well, aku terdengar sangat hebat."
Taehyung tertawa, sedangkan aku hanya dapat tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalaku pelan mendengar ucapannya. Hingga beberapa detik kemudian Taehyung berhenti tertawa, ia berdeham pelan lantas memiringkan kepalanya.
"Jadi, menurutmu kenapa aku mengajakmu bertemu disini?" tanya Taehyung sembari memasang ekspresi layaknya anak kecil.
Aku menopang daguku dengan tanganku lalu bergumam tidak jelas; mencoba memberikan pose berpikir paling keren yang dapat aku lakukan. Taehyung tersenyum geli kearahku.
"Jawab saja dengan apa yang ada di pikiranmu sekarang." ujarnya.
"Ummm lasagna...pasta..pizza.."
"Ya!"
Aku tertawa melihat wajah kesal Taehyung. Sesaat kemudian aku berhenti tertawa lalu memasang ekspresi polosku.
"Kau bilang aku boleh menjawab dengan apa yang ada dipikiranku." ucapku. Taehyung mendorong kepalaku pelan.
"Bagaimana mungkin gadis bodoh sepertimu dapat kuliah di Oxford University? Astaga." Taehyung menatapku dengan tatapan penuh curiga. Aku mendesis pelan lalu membenarkan posisi dudukku.
"Baiklah. Kau merindukanku?"
Taehyung tidak menjawabnya, aku mengerutkan kening.
"Salah? Umm.. Kau ingin aku mentraktirmu di kafe ini?"
Taehyung masih diam sembari menggelengkan kepalanya.
"Kau ingin pamer jika sekarang kau sudah jadi seorang dokter?"
Taehyung masih membalas ucapanku dengan gelengan kepala. Aku terdiam selama beberapa saat untuk berpikir, hingga akhirnya aku tersenyum lebar.
"Hah! Kau ingin melihat waitress cantik yang dulu kau sukai itu?"
Dan kini tangan Taehyung sudah kembali mendorong kepalaku. Kali ini dengan cukup keras.
"Bodoh." ucapnya. Aku berdecak kesal lalu balas mendorong kepalanya dengan sangat keras. Taehyung membulatkan matanya.
"Ya! Berani-beraninya kau mendorong kepala calon suamimu sendiri!" protesnya. Aku ikut membulatkan mataku lalu hendak mendorong kepalanya lagi.
"Siapa yang mu-- eh tunggu, kau bilang apa tadi?" tanyaku. Taehyung melipat kedua tangannya didepan dada lalu menjulurkan lidahnya.
"Tidak akan kuulangi."
"Iewh."
"Apa?"
"Tidak. Kau bilang apa tadi?" tanyaku dengan nada memaksa. Taehyung menghembuskan napasnya pelan lalu mengambil sesuatu dari saku jaketnya.
"Ini," Taehyung menyerahkan sebuah kotak kecil kearahku. Aku menaikkan sebelah halisku lantas mengambil kotak itu. Taehyung tersenyum. "kau tahu harus melakukan apa dengan kotak itu." tambahnya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Tentu saja membukanya, bodoh."
"......."
Taehyung tertawa dengan suara beratnya. Baiklah. Tahan. Simpan keinginanmu untuk mematahkan leher seorang Kim Taehyung.
Aku menghembuskan napasku pelan lalu memperhatikan kotak kecil tersebut. Kotak berwarna hitam dengan pita abu-abu kecil sebagai penghias. Manis sekali.
Sebenarnya, tadi aku dapat mendengar ucapan Taehyung dengan sangat jelas. Lagipula, aku hanya ingin memastikan saja.
"5 tahun yang lalu, di kafe ini, tanggal 12 November pukul 3 sore." ujar Taehyung. Aku mengalihkan pandanganku padanya lantas memiringkan kepalaku. Taehyung kembali tersenyum. Dia mengambil kotak yang aku pegang lalu membukanya.
Taehyung lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiriku lalu berjongkok disamping kananku.
"Kau berjanji jika aku dapat menunggumu selama kau kuliah diluar negeri, jika aku dapat menjadi seorang dokter yang hebat saat kau kembali..." Taehyung menggantungkan kalimatnya. Aku bergeming saat Taehyung meraih tangan kiriku.
"Kau akan menikahiku. Bisakah aku menagih janjimu sekarang? Aku tahu cara ini sudah terlalu mainstream dan tidak keren. Tapi seorang Kim Taehyung adalah epitome dari kata keren itu sendiri, jadi tampaknya sesuatu yang lebih keren dari ini sudah tidak diperlukan." Taehyung menyeringai sembari mengambil sebuah gelang dari dalam kotak tersebut. Aku mengerutkan kening.
"Gelang? Bukan cincin?"
"Cincin sudah terlalu mainstream."
Krik.
End.
Pfftt ini apa HAHAHAHAHAHAHAHAHAH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
[!!] Gunakan bahasa yang sopan. Terima kasih.